April 3, 2025

Bantuan Pemerintah Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra

Layanan Bantuan Pemerintah Ruang KreatifAplikasi Bantuan Pemerintah (Banper) adalah Aplikasi yang digunakan untuk mendukung pendaftaran program Banper Infrastruktur Ekonomi Kreatif.

Pemerintahan Tingkat Paling Rendah: Desa dan Kelurahan
March 20, 2025 | admin

Pemerintahan Tingkat Paling Rendah: Desa dan Kelurahan

Pemerintahan Tingkat Paling Rendah: Desa dan Kelurahan

Dalam sistem pemerintahan suatu negara, desa dan kelurahan merupakan tingkat pemerintahan paling rendah yang berperan langsung dalam mengatur kehidupan masyarakat di tingkat lokal. Meskipun keduanya memiliki fungsi administratif yang serupa, terdapat perbedaan mendasar dalam hal kewenangan, pengelolaan, serta tingkat otonomi yang diberikan oleh pemerintah pusat atau daerah.

Pemerintahan Tingkat Paling Rendah: Desa dan Kelurahan

Secara umum, desa dan kelurahan merupakan satuan pemerintahan yang beroperasi di bawah kecamatan. Namun, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan dalam aspek administratif dan fungsional:

Desa

Memiliki otonomi adat dan budaya, sehingga dapat mengatur dirinya sendiri berdasarkan hukum adat yang berlaku.

Dipimpin oleh Kepala Desa yang dipilih langsung oleh masyarakat melalui pemilihan kepala desa.

Memiliki Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang berperan sebagai lembaga legislatif tingkat desa.

Pengelolaan desa didasarkan pada Undang-Undang Desa, yang memberikan wewenang bagi desa untuk mengelola anggaran, sumber daya, serta kebijakan pembangunan lokal.

Kelurahan

Bersifat satuan pemerintahan administratif, yang berada langsung di bawah pengawasan pemerintah kabupaten atau kota.

Dipimpin oleh Lurah, yang merupakan pegawai negeri sipil (PNS) yang diangkat oleh bupati atau wali kota.

Tidak memiliki otonomi khusus dalam mengatur kebijakan sendiri, karena pengelolaan kelurahan lebih banyak mengikuti regulasi dari pemerintah pusat atau daerah.

Berfungsi sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah dalam melaksanakan program-program pemerintahan di tingkat lokal.

Struktur Pemerintahan di Tingkat Desa dan Kelurahan

Baik desa maupun kelurahan memiliki struktur pemerintahan yang bertujuan untuk menjalankan fungsi pemerintahan dan pelayanan masyarakat. Berikut adalah struktur pemerintahan di masing-masing tingkatan:

1. Struktur Pemerintahan Desa

Kepala Desa

Bertugas sebagai pemimpin eksekutif yang mengelola desa.

Dipilih oleh masyarakat melalui pemilihan kepala desa setiap enam tahun sekali.

Memiliki tanggung jawab dalam pembangunan, pengelolaan anggaran desa, serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Badan Permusyawaratan Desa (BPD)

Berperan sebagai badan legislatif desa yang mengawasi kebijakan kepala desa.

Anggotanya terdiri dari perwakilan masyarakat yang dipilih melalui musyawarah.

Perangkat Desa

Meliputi sekretaris desa, kepala dusun, kepala urusan, dan perangkat lainnya yang membantu operasional desa.

2. Struktur Pemerintahan Kelurahan

Lurah

Memimpin kelurahan dan bertanggung jawab langsung kepada camat.

Diangkat oleh bupati atau wali kota, bukan dipilih oleh masyarakat seperti kepala desa.

Sekretaris Kelurahan

Bertugas mengelola administrasi dan koordinasi dalam kelurahan.

Staf Kelurahan

Membantu lurah dalam menjalankan tugas-tugas administratif, pelayanan publik, serta program pemerintah daerah.

Fungsi dan Tanggung Jawab Desa serta Kelurahan

1. Fungsi Desa

Sebagai entitas yang memiliki otonomi lokal, desa memiliki beberapa fungsi utama:

Mengatur dan mengelola sumber daya desa, termasuk tanah dan potensi ekonomi lokal.

Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program pembangunan desa.

Menyusun dan menetapkan kebijakan desa yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat.

Menjaga adat dan kearifan lokal dalam tata kelola pemerintahan desa.

2. Fungsi Kelurahan

Sebagai unit administrasi pemerintahan, kelurahan memiliki peran utama sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah:

Melaksanakan kebijakan pemerintah pusat atau daerah di tingkat masyarakat.

Menyediakan layanan administrasi publik, seperti pembuatan KTP, KK, dan surat-surat lainnya.

Menjalankan program pembangunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah.

Peran Desa dan Kelurahan dalam Pembangunan Nasional

Baik desa maupun kelurahan memiliki peran penting dalam pembangunan nasional, terutama dalam hal peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan pembangunan.

Pembangunan Infrastruktur

Desa sering kali memiliki anggaran pembangunan sendiri melalui Dana Desa, yang digunakan untuk membangun jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, dan pendidikan.

Kelurahan menjalankan program pembangunan dari pemerintah daerah yang berkaitan dengan infrastruktur perkotaan.

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Desa memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi lokal.

Kelurahan mendukung usaha kecil dan menengah (UMKM) dengan program bantuan dari pemerintah daerah.

Pelayanan Publik

Desa memberikan layanan berbasis masyarakat yang lebih dekat dengan penduduk setempat.

Kelurahan menyediakan layanan administrasi yang lebih cepat dan efisien dalam lingkungan perkotaan.

Kesimpulan

Desa dan kelurahan merupakan pemerintahan tingkat paling rendah yang memiliki peran penting dalam mengatur kehidupan masyarakat. Desa memiliki otonomi dalam mengelola kebijakan dan sumber daya sendiri, sementara kelurahan lebih bersifat administratif sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah.

Dengan perannya masing-masing, baik desa maupun kelurahan berkontribusi dalam pembangunan nasional, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta pelayanan publik yang lebih dekat dengan warga. Meskipun memiliki perbedaan dalam struktur dan wewenang, keduanya tetap menjadi bagian penting dalam sistem pemerintahan di Indonesia.

Share: Facebook Twitter Linkedin
Pemerintahan Orde Baru: Lahir Berkembang dan Berakhirnya
March 20, 2025 | admin

Pemerintahan Orde Baru: Lahir Berkembang dan Berakhirnya

Pemerintahan Orde Baru: Lahir Berkembang dan Berakhirnya

Orde Baru merupakan sebuah periode dalam sejarah Indonesia yang merujuk pada pemerintahan Presiden Soeharto, yang menggantikan Orde Lama yang dipimpin oleh Soekarno. Era ini dimulai dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), yang memberikan mandat kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan dan stabilitas nasional pasca peristiwa G30S/PKI. Orde Baru berlangsung selama lebih dari tiga dekade, tepatnya dari tahun 1966 hingga 1998.

Pemerintahan Orde Baru: Lahir Berkembang dan Berakhirnya

Di bawah kepemimpinan Soeharto, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, modernisasi infrastruktur, serta stabilitas politik yang lebih terjaga dibandingkan era sebelumnya. Namun, era ini juga ditandai dengan berbagai praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang merajalela, serta pengekangan terhadap kebebasan berpendapat dan demokrasi.

Latar Belakang Lahirnya Orde Baru

Peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru dipicu oleh berbagai krisis politik, ekonomi, dan keamanan yang terjadi di era pemerintahan Soekarno. Beberapa faktor utama yang menyebabkan lahirnya Orde Baru meliputi:

Krisis Politik dan Peristiwa G30S/PKI

Pada 30 September 1965, terjadi pemberontakan Gerakan 30 September (G30S/PKI), yang mengakibatkan terbunuhnya beberapa perwira tinggi TNI.

Situasi ini memunculkan gejolak politik yang semakin tidak terkendali.

Dikeluarkannya Supersemar

Pada 11 Maret 1966, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang memberikan wewenang kepada Soeharto untuk mengambil langkah-langkah dalam menjaga stabilitas nasional.

Dengan mandat ini, Soeharto kemudian mengambil alih pemerintahan secara bertahap.

Pembersihan Unsur PKI dan Konsolidasi Kekuasaan

Setelah menerima Supersemar, Soeharto melakukan berbagai tindakan untuk menekan pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pendukungnya.

Soeharto akhirnya resmi diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia pada tahun 1968 melalui Sidang MPR.

Kebijakan dan Karakteristik Pemerintahan Orde Baru

Setelah resmi berkuasa, Soeharto mulai membangun pemerintahan yang berlandaskan pada konsep stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. Berikut adalah beberapa kebijakan utama yang diterapkan selama era Orde Baru:

Pembangunan Ekonomi Berbasis Repelita

Orde Baru menerapkan program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Berbagai sektor seperti pertanian, industri, dan infrastruktur mengalami kemajuan pesat.

Peningkatan Stabilitas Politik

Pemerintahan Orde Baru menerapkan sistem Dwi Fungsi ABRI, yang memungkinkan TNI dan Polri terlibat dalam pemerintahan dan politik.

Pemilu tetap dilaksanakan, tetapi hanya diikuti oleh tiga partai utama, yaitu Golkar, PPP, dan PDI.

Pemberantasan PKI dan Pembatasan Kebebasan Berpendapat

Segala bentuk ideologi komunis dilarang melalui Tap MPRS No. XXV/1966.

Pers dan media massa dikontrol ketat, sehingga kritik terhadap pemerintah sulit dilakukan.

Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)

Praktik korupsi semakin berkembang di berbagai lapisan birokrasi.

Kolusi dan nepotisme juga terjadi di dalam pemerintahan, di mana banyak proyek ekonomi dan bisnis dikuasai oleh kroni-kroni dekat Soeharto.

Dampak Positif dan Negatif Pemerintahan Orde Baru

Dampak Positif:

Pertumbuhan Ekonomi yang Stabil

Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan, dengan angka pertumbuhan rata-rata mencapai 7% per tahun di era 1980-an.

Swadaya Pangan

Program Revolusi Hijau yang diterapkan dalam sektor pertanian membuat Indonesia mampu mencapai swasembada beras pada tahun 1984.

Pembangunan Infrastruktur

Banyak proyek infrastruktur besar, seperti jalan raya, bendungan, dan fasilitas publik, dibangun selama pemerintahan Orde Baru.

Dampak Negatif:

Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)

Banyak aktivis politik dan mahasiswa yang menjadi korban penculikan atau dipersekusi karena dianggap menentang pemerintahan.

Pengekangan Kebebasan Pers dan Berpendapat

Media dikontrol ketat oleh pemerintah melalui Departemen Penerangan.

Kritik terhadap pemerintah sering kali berujung pada penutupan media atau pemenjaraan jurnalis.

Praktik KKN yang Merajalela

Korupsi menjadi bagian dari birokrasi, dengan banyak proyek yang diberikan kepada kroni-kroni Soeharto tanpa proses yang transparan.

Krisis dan Akhir dari Pemerintahan Orde Baru

Meskipun bertahan selama lebih dari tiga dekade, pemerintahan Orde Baru akhirnya mengalami kejatuhan akibat berbagai krisis yang semakin memburuk:

Krisis Ekonomi 1997-1998

Krisis moneter yang melanda Asia Tenggara menyebabkan ekonomi Indonesia runtuh.

Rupiah mengalami devaluasi drastis, dan harga kebutuhan pokok melonjak tajam.

Gerakan Reformasi

Gelombang demonstrasi mahasiswa dan masyarakat semakin besar menuntut reformasi dan mundurnya Soeharto.

Peristiwa Tragedi Trisakti (12 Mei 1998) dan Kerusuhan Mei 1998 mempercepat jatuhnya Orde Baru.

Soeharto Mengundurkan Diri

Pada 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya setelah mendapatkan tekanan dari berbagai pihak.

Wakil Presiden B.J. Habibie kemudian dilantik sebagai Presiden baru, menandai dimulainya era Reformasi.

Kesimpulan

Pemerintahan Orde Baru merupakan salah satu periode paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, yang membawa pertumbuhan ekonomi yang pesat tetapi juga disertai dengan pengekangan kebebasan politik dan praktik korupsi yang merajalela. Berkat kebijakan stabilitasnya, Indonesia mengalami kemajuan dalam berbagai bidang, termasuk infrastruktur dan swasembada pangan. Namun, di sisi lain, kebebasan berpendapat dan demokrasi sangat dibatasi, serta korupsi semakin mengakar dalam sistem pemerintahan.

Akhir dari Orde Baru ditandai dengan krisis ekonomi 1997-1998, yang memicu gelombang demonstrasi reformasi hingga akhirnya memaksa Soeharto mundur pada 21 Mei 1998. Era ini pun berakhir, dan Indonesia memasuki fase Reformasi, dengan sistem pemerintahan yang lebih demokratis dan terbuka.

Meskipun telah berlalu lebih dari dua dekade, warisan Orde Baru masih menjadi bahan kajian dan diskusi dalam sejarah politik Indonesia hingga saat ini.

Share: Facebook Twitter Linkedin