
Pemerintahan Soeharto: Era Orde Baru dan Perjalanannya
Pemerintahan Soeharto: Era Orde Baru dan Perjalanannya
Pemerintahan Soeharto berlangsung dari 1966 hingga 1998, menjadikannya sebagai presiden kedua Republik Indonesia setelah menggantikan Soekarno. Masa kepemimpinannya dikenal sebagai era Orde Baru, yang berfokus pada stabilitas politik, pembangunan ekonomi, serta kontrol ketat terhadap kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Meskipun membawa pertumbuhan ekonomi yang pesat, pemerintahannya juga diwarnai oleh berbagai tantangan, termasuk otoritarianisme, korupsi, dan akhirnya krisis ekonomi yang berujung pada kejatuhannya.
Pemerintahan Soeharto: Era Orde Baru dan Perjalanannya
Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI), kondisi politik di Indonesia menjadi semakin tidak stabil. Soekarno menghadapi tekanan besar dari berbagai pihak, terutama militer dan kelompok anti-komunis, yang menuntut perubahan kepemimpinan. Pada 11 Maret 1966, Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberikan wewenang kepada Jenderal Soeharto untuk mengambil langkah-langkah dalam menjaga stabilitas negara.
Dalam waktu singkat, Soeharto berhasil mengonsolidasikan kekuasaannya dengan membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI), menangkap tokoh-tokoh yang dianggap berbahaya, serta mengurangi pengaruh Soekarno dalam pemerintahan. Pada 27 Maret 1968, Soeharto secara resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), menandai dimulainya pemerintahan Orde Baru.
Kebijakan dan Ciri Khas Pemerintahan Soeharto
Soeharto membawa perubahan besar dalam sistem pemerintahan dan ekonomi Indonesia. Beberapa kebijakan utama yang diterapkan dalam era Orde Baru meliputi:
Stabilitas Politik dan Keamanan
Soeharto menerapkan sistem pemerintahan yang sentralistik, dengan militer memainkan peran besar dalam menjaga ketertiban nasional.
Penerapan dwi fungsi ABRI, di mana militer tidak hanya berperan dalam pertahanan, tetapi juga dalam politik dan pemerintahan.
Partai politik mengalami restrukturisasi, dengan hanya tiga partai utama yang diizinkan, yaitu Golkar, PPP, dan PDI.
Pembangunan Ekonomi dan Industrialisasi
Fokus utama pemerintahan Orde Baru adalah stabilisasi ekonomi, dengan bantuan dari negara-negara Barat dan lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia.
Program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) diterapkan untuk meningkatkan infrastruktur, pertanian, dan industri.
Kebijakan swasembada pangan, terutama di sektor pertanian, membuat Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984.
Kontrol terhadap Media dan Kebebasan Berpendapat
Pers dan media dikontrol ketat melalui mekanisme Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), yang memungkinkan pemerintah menutup media yang dianggap kritis.
Aktivitas politik yang dianggap berlawanan dengan pemerintah sering kali dibungkam melalui pembatasan kebebasan berekspresi dan tindakan represif terhadap aktivis.
Kebijakan Sosial dan Pendidikan
Program Wajib Belajar diperkenalkan untuk meningkatkan tingkat pendidikan dasar di Indonesia.
Pengembangan infrastruktur pendidikan dan kesehatan dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Krisis Ekonomi dan Akhir Pemerintahan Soeharto
Meskipun Orde Baru membawa pertumbuhan ekonomi yang pesat, korupsi yang merajalela dan ketergantungan pada utang luar negeri menjadi faktor utama yang melemahkan sistem ekonomi Indonesia. Pada tahun 1997, Indonesia mengalami krisis ekonomi yang dipicu oleh jatuhnya nilai tukar rupiah dan ketidakstabilan keuangan di Asia.
Beberapa faktor yang mempercepat kejatuhan Soeharto meliputi:
Gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai kota menuntut reformasi dan pengunduran diri Soeharto.
Ketidakstabilan ekonomi, yang menyebabkan harga-harga naik drastis dan daya beli masyarakat menurun.
Tekanan dari elite politik dan militer, yang semakin kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Soeharto.
Tragedi Trisakti (12 Mei 1998) dan kerusuhan besar di Jakarta semakin memperburuk situasi politik.
Pada 21 Mei 1998, setelah 32 tahun berkuasa, Soeharto akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan kekuasaan kepada BJ Habibie sebagai presiden baru Indonesia.
Dampak dan Warisan Pemerintahan Soeharto
Era pemerintahan Soeharto meninggalkan dampak besar bagi Indonesia, baik dalam aspek ekonomi, politik, maupun sosial. Beberapa warisan penting dari kepemimpinannya meliputi:
Pertumbuhan Ekonomi yang Signifikan
Selama pemerintahan Soeharto, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, terutama pada tahun 1980-an dan awal 1990-an.
Modernisasi Infrastruktur dan Swasembada Pangan
Pembangunan jalan raya, bendungan, dan sarana transportasi lainnya menjadi bagian dari pencapaian Orde Baru.
Sentralisasi Kekuasaan dan Kurangnya Demokrasi
Sistem politik yang terlalu terkonsentrasi di tangan pemerintah membuat demokrasi sulit berkembang.
Meningkatnya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)
KKN menjadi salah satu penyebab utama kemunduran Orde Baru dan memicu reformasi besar setelah kejatuhan Soeharto.
Kesimpulan
Pemerintahan Soeharto berlangsung selama 32 tahun, menjadikannya sebagai pemimpin terlama dalam sejarah Indonesia. Dengan kebijakan Orde Baru, ia berhasil membawa stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Namun, kepemimpinannya juga dikritik karena kurangnya demokrasi, kontrol ketat terhadap kebebasan berpendapat, serta korupsi yang merajalela.
Pada akhirnya, krisis ekonomi dan tuntutan reformasi menyebabkan kejatuhan Soeharto pada tahun 1998, menandai akhir dari era Orde Baru dan awal dari perjalanan baru bagi sistem demokrasi di Indonesia.

Pemerintahan Soekarno: Perjalanan dari Demokrasi Parlementer
Pemerintahan Soekarno: Perjalanan dari Demokrasi Parlementer
Soekarno adalah presiden pertama Republik Indonesia yang menjabat sejak kemerdekaan pada tahun 1945 hingga 1967. Kepemimpinannya mengalami berbagai dinamika politik yang ditandai oleh peralihan sistem pemerintahan dari demokrasi parlementer ke demokrasi terpimpin. Pergeseran ini tidak hanya berpengaruh terhadap sistem politik dalam negeri, tetapi juga terhadap hubungan diplomasi Indonesia di kancah internasional.
Pemerintahan Soekarno: Perjalanan dari Demokrasi Parlementer
Pada awal kemerdekaan, Indonesia menerapkan sistem pemerintahan demokrasi parlementer, di mana kekuasaan eksekutif lebih banyak berada di tangan perdana menteri dan kabinet yang dipilih oleh parlemen. Dalam sistem ini, presiden lebih banyak berperan sebagai kepala negara, bukan sebagai kepala pemerintahan.
Namun, demokrasi parlementer di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, di antaranya:
Ketidakstabilan politik – Sering terjadinya pergantian kabinet akibat konflik politik antarpartai.
Munculnya berbagai gerakan separatis – Seperti Republik Maluku Selatan (RMS) dan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Kesulitan ekonomi pasca-kemerdekaan – Kondisi ekonomi yang lemah akibat sistem pemerintahan yang kurang stabil.
Ketidakmampuan demokrasi parlementer dalam menciptakan pemerintahan yang kuat membuat Soekarno mencari alternatif sistem yang lebih sesuai untuk Indonesia.
Peralihan ke Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Pada tahun 1959, Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan sistem demokrasi parlementer dan menggantikannya dengan demokrasi terpimpin. Dengan sistem ini, kekuasaan presiden diperkuat dan parlemen tidak lagi memiliki peran dominan dalam pemerintahan.
Ciri utama demokrasi terpimpin meliputi:
Konsolidasi kekuasaan di tangan presiden – Soekarno menjadi pemimpin utama yang mengambil keputusan strategis tanpa bergantung pada parlemen.
Peran dominan militer dan partai politik tertentu – TNI dan Partai Komunis Indonesia (PKI) mendapatkan pengaruh besar dalam pemerintahan.
Konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme) – Soekarno mencoba menyatukan berbagai kekuatan ideologi di Indonesia untuk menjaga stabilitas politik.
Pada periode ini, Indonesia juga semakin aktif dalam diplomasi global dengan politik luar negeri yang anti-imperialisme dan anti-kolonialisme. Soekarno menjadi tokoh penting dalam Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955.
Tantangan dan Akhir Pemerintahan Soekarno
Meskipun demokrasi terpimpin memberi Soekarno kekuatan besar dalam pemerintahan, sistem ini menghadapi berbagai permasalahan, antara lain:
Krisis Ekonomi yang Semakin Parah
Inflasi meningkat pesat akibat kebijakan ekonomi yang tidak stabil.
Harga barang kebutuhan pokok melambung tinggi, sementara pembangunan infrastruktur berskala besar terus dilakukan.
Ketegangan Politik dalam Negeri
Persaingan antara TNI dan PKI semakin meningkat, menimbulkan ketidakstabilan politik.
Puncaknya adalah peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965, yang memicu perubahan besar dalam kepemimpinan nasional.
Intervensi Militer dan Peralihan Kekuasaan
Pada 11 Maret 1966, Soekarno mengeluarkan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang memberikan wewenang kepada Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan guna mengendalikan situasi politik dan keamanan negara.
Dalam waktu singkat, Soeharto berhasil mengamankan kekuasaan dan pada tahun 1967, Soekarno secara resmi dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden.
Kesimpulan
Pemerintahan Soekarno mengalami perubahan besar dari sistem demokrasi parlementer yang tidak stabil ke demokrasi terpimpin yang memberikan kekuasaan lebih besar kepada presiden. Meskipun sistem ini bertujuan untuk menciptakan stabilitas politik, pada akhirnya justru memunculkan ketegangan yang berujung pada peristiwa politik besar di tahun 1965.
Meskipun Soekarno harus lengser pada tahun 1967, warisannya dalam memperjuangkan kemerdekaan, diplomasi global, dan pembangunan nasional tetap dikenang dalam sejarah Indonesia. Perjalanan politiknya menjadi pelajaran berharga bagi perkembangan sistem pemerintahan di Indonesia hingga saat ini.