April 3, 2025

Bantuan Pemerintah Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra

Layanan Bantuan Pemerintah Ruang KreatifAplikasi Bantuan Pemerintah (Banper) adalah Aplikasi yang digunakan untuk mendukung pendaftaran program Banper Infrastruktur Ekonomi Kreatif.

Pemerintahan Soeharto: Era Orde Baru dan Perjalanannya

Pemerintahan Soeharto: Era Orde Baru dan Perjalanannya

Pemerintahan Soeharto berlangsung dari 1966 hingga 1998, menjadikannya sebagai presiden kedua Republik Indonesia setelah menggantikan Soekarno. Masa kepemimpinannya dikenal sebagai era Orde Baru, yang berfokus pada stabilitas politik, pembangunan ekonomi, serta kontrol ketat terhadap kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Meskipun membawa pertumbuhan ekonomi yang pesat, pemerintahannya juga diwarnai oleh berbagai tantangan, termasuk otoritarianisme, korupsi, dan akhirnya krisis ekonomi yang berujung pada kejatuhannya.

Pemerintahan Soeharto: Era Orde Baru dan Perjalanannya

Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI), kondisi politik di Indonesia menjadi semakin tidak stabil. Soekarno menghadapi tekanan besar dari berbagai pihak, terutama militer dan kelompok anti-komunis, yang menuntut perubahan kepemimpinan. Pada 11 Maret 1966, Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberikan wewenang kepada Jenderal Soeharto untuk mengambil langkah-langkah dalam menjaga stabilitas negara.

Dalam waktu singkat, Soeharto berhasil mengonsolidasikan kekuasaannya dengan membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI), menangkap tokoh-tokoh yang dianggap berbahaya, serta mengurangi pengaruh Soekarno dalam pemerintahan. Pada 27 Maret 1968, Soeharto secara resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), menandai dimulainya pemerintahan Orde Baru.

Kebijakan dan Ciri Khas Pemerintahan Soeharto

Soeharto membawa perubahan besar dalam sistem pemerintahan dan ekonomi Indonesia. Beberapa kebijakan utama yang diterapkan dalam era Orde Baru meliputi:

Stabilitas Politik dan Keamanan

Soeharto menerapkan sistem pemerintahan yang sentralistik, dengan militer memainkan peran besar dalam menjaga ketertiban nasional.

Penerapan dwi fungsi ABRI, di mana militer tidak hanya berperan dalam pertahanan, tetapi juga dalam politik dan pemerintahan.

Partai politik mengalami restrukturisasi, dengan hanya tiga partai utama yang diizinkan, yaitu Golkar, PPP, dan PDI.

Pembangunan Ekonomi dan Industrialisasi

Fokus utama pemerintahan Orde Baru adalah stabilisasi ekonomi, dengan bantuan dari negara-negara Barat dan lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia.

Program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) diterapkan untuk meningkatkan infrastruktur, pertanian, dan industri.

Kebijakan swasembada pangan, terutama di sektor pertanian, membuat Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984.

Kontrol terhadap Media dan Kebebasan Berpendapat

Pers dan media dikontrol ketat melalui mekanisme Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), yang memungkinkan pemerintah menutup media yang dianggap kritis.

Aktivitas politik yang dianggap berlawanan dengan pemerintah sering kali dibungkam melalui pembatasan kebebasan berekspresi dan tindakan represif terhadap aktivis.

Kebijakan Sosial dan Pendidikan

Program Wajib Belajar diperkenalkan untuk meningkatkan tingkat pendidikan dasar di Indonesia.

Pengembangan infrastruktur pendidikan dan kesehatan dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Krisis Ekonomi dan Akhir Pemerintahan Soeharto

Meskipun Orde Baru membawa pertumbuhan ekonomi yang pesat, korupsi yang merajalela dan ketergantungan pada utang luar negeri menjadi faktor utama yang melemahkan sistem ekonomi Indonesia. Pada tahun 1997, Indonesia mengalami krisis ekonomi yang dipicu oleh jatuhnya nilai tukar rupiah dan ketidakstabilan keuangan di Asia.

Beberapa faktor yang mempercepat kejatuhan Soeharto meliputi:

Gelombang demonstrasi mahasiswa di berbagai kota menuntut reformasi dan pengunduran diri Soeharto.

Ketidakstabilan ekonomi, yang menyebabkan harga-harga naik drastis dan daya beli masyarakat menurun.

Tekanan dari elite politik dan militer, yang semakin kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Soeharto.

Tragedi Trisakti (12 Mei 1998) dan kerusuhan besar di Jakarta semakin memperburuk situasi politik.

Pada 21 Mei 1998, setelah 32 tahun berkuasa, Soeharto akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan kekuasaan kepada BJ Habibie sebagai presiden baru Indonesia.

Dampak dan Warisan Pemerintahan Soeharto

Era pemerintahan Soeharto meninggalkan dampak besar bagi Indonesia, baik dalam aspek ekonomi, politik, maupun sosial. Beberapa warisan penting dari kepemimpinannya meliputi:

Pertumbuhan Ekonomi yang Signifikan

Selama pemerintahan Soeharto, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, terutama pada tahun 1980-an dan awal 1990-an.

Modernisasi Infrastruktur dan Swasembada Pangan

Pembangunan jalan raya, bendungan, dan sarana transportasi lainnya menjadi bagian dari pencapaian Orde Baru.

Sentralisasi Kekuasaan dan Kurangnya Demokrasi

Sistem politik yang terlalu terkonsentrasi di tangan pemerintah membuat demokrasi sulit berkembang.

Meningkatnya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)

KKN menjadi salah satu penyebab utama kemunduran Orde Baru dan memicu reformasi besar setelah kejatuhan Soeharto.

Kesimpulan

Pemerintahan Soeharto berlangsung selama 32 tahun, menjadikannya sebagai pemimpin terlama dalam sejarah Indonesia. Dengan kebijakan Orde Baru, ia berhasil membawa stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Namun, kepemimpinannya juga dikritik karena kurangnya demokrasi, kontrol ketat terhadap kebebasan berpendapat, serta korupsi yang merajalela.

Pada akhirnya, krisis ekonomi dan tuntutan reformasi menyebabkan kejatuhan Soeharto pada tahun 1998, menandai akhir dari era Orde Baru dan awal dari perjalanan baru bagi sistem demokrasi di Indonesia.

Share: Facebook Twitter Linkedin